Sunday, December 26, 2004

GEMPA ACEH GUNCANG DUNIA

Oleh :

Muhamad Jafar Elly

Dunia belum lagi kiamat, tapi gempa Aceh telah membuat umat manusia ketakutan luar biasa. Gempa dahsyat yang berkekuatan 8,9 pada Skala Richter menurut US Geological Survey (BMG-nya AS) pada Ahad pagi, 26 Desember 2004 pukul 07.58 wkbi (waktu kawasan barat Indonesia) meluluhlantahkan wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Getaran gempa ini terasa hingga ke negeri-negeri jiran, seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Bahkan gempa tektonik ini menimbulkan gelombang tsunami setinggi lebih kurang 5 meter hingga menjangkau kawasan pantai Sri Lanka, India, Bangladesh, Maldiva dan Pulau Coco. Total sementara korban yang tewas mencapai lebih dari 20.000 orang, masing-masing Sri Lanka 11.529 orang, India 3000 orang, Indonesia 4752 orang, Thailand 839 orang, Malaysia 53 orang belum termasuk yang di Singapura, Bangladesh dan lain-lainnya (sumber: detikcom). Pemerintah Sri Lanka bahkan menetapkan bencana ini sebagai darurat nasional bagi negerinya. Sungguh mengerikan!.

Dalam catatan sejarah pergempaan, gempa Aceh ini termasuk yang paling hebat terjadi di dunia dalam abad 21 ini. Para ahli mengatakan gempa ini merupakan gempa nomor 5 terdahsyat dari 10 gempa terdahsyat yang pernah terjadi di dunia sejak tahun 1900 M. Melihat jangkauan gempa Aceh yang luas itu, sangat wajar bila dikatakan gempa ini merupakan bencana alam dunia. Kedahsyatan gempa Aceh barangkali bisa disejajarkan dengan meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883 yang getarannya mampu menjangkau kawasan Asia Pasifik lainnya dan benua Amerika hingga Australia. Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan gempa Aceh ini sebagai bencana alam nasional dan masa berkabung nasional selama 3 hari.

Dampak gempa Aceh ini, antara lain terputusnya hubungan telekomunikasi sebanyak 41.318 SST di wilayah Aceh dan sekitarnya, terhentinya penerbangan dari dan ke Aceh, hancurnya rumah-rumah penduduk, rumah-rumah ibadah, fasilitas sosial dan umum serta terhentinya berbagai aktifitas masyarakat. Secara psikologi, gempa tersebut akan membuat masyarakat merasa takut dan khawatir untuk berdiam di dalam rumah atau gedung-gedung lainnya. Ketakutan itu wajar saja karena sewaktu-waktu gempa susulan bisa terjadi kembali. Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah kerugian yang diderita masyarakat yang tertimpa musibah itu baik yang di Indonesia (Sumatera) maupun di belahan dunia lainnya (Sir Lanka, Bangladesh, India, Maldiva, Thailand, Malaysia, Singapura dan sebagainya).

Duka tampaknya masih menggelayut di bumi pertiwi ini. Bencana alam tersebut tidak hanya menimbulkan duka bagi masyarakat Sumatera umumnya dan Aceh khususnya tetapi duka bagi seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Gempa Aceh yang disusul dengan bencana gelombang pasang laut tsunami ini semakin memperpanjang daftar musibah dan bencana alam di Indonesia. Sepanjang tahun 2004 ini telah terjadi musibah beruntun akibat kondisi cuaca yang buruk. Masih segar dalam ingatan bangsa ini bagaimana musibah banjir dan tanah longsor melanda wilayah Jawa dan Sumatera, tabrakan beruntun yang hampir setiap saat terjadi ketika masyarakat melakukan perjalanan mudik lebaran yang lalu, gempa bumi yang berkekuatan lebih kurang 6 pada Skala Richter menghantam pulau Alor, NTT dan kota Nabire, Papua sebanyak 2 kali dalam tahun 2004 ini, tergelincirnya pesawat Lion Air di bandara Adi Sumarmo Solo, jatuhnya pesawat helikopter berturut-turut di Nabire (22/12/04) dan di pegunungan Dieng, Jawa Tengah (23/12/04) yang menewaskan semua penumpangnya dan yang terakhir musibah gempa dahsyat yang mengguncang Aceh dan dunia saat ini.

Ada apakah dengan semua musibah ini? Hendaknya setiap orang merenungkannya. Boleh jadi sang pemilik alam ini sedang murka atas keangkuhan manusia dan boleh jadi pula Dia hendak memberikan pelajaran kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa ingat kepada-Nya. Setidaknya Allah ingin menunjukkan kekuasaan dan kekuatan-Nya pada manusia bahwa sesungguhnya manusia itu lemah dan tak berdaya manakala bencana datang menimpa dirinya. Gempa dahsyat ini mengingatkan penulis pada firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Zalzalah yang menceritakan kegoncangan bumi yang sangat dahsyat hingga manusia lari pontang-panting tak berdaya menghindari goncangan itu. Sekali lagi, bumi ini belum kiamat tapi gempa Aceh itu telah membuat manusia ketakutan luar biasa persis seperti yang digambarkan dalam ayat Qur’an tersebut.

Bagi kaum ilmuwan khususnya yang menggeluti bidang geologi laut dan gelombang tsunami, tentu ini akan menjadi pekerjaan besar untuk dipelajari. Namun yang tepenting dan yang paling utama dilakukan saat ini adalah melakukan aksi nyata ke lokasi bencana, menyelamatkan korban-korban yang tersisa dan membantu meringankan beban penderitaan masyarakat yang terkena musibah terhebat abad ini.

Sudah sepatutnya kita ikut berbela sungkawa atas musibah bencana alam ini dan berdo’a semoga para korban yang tewas diberikan tempat yang layak di sisi Yang Maha Kuasa dan mereka yang ditinggalkannya diperkokoh keimanannya serta diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Aamiin…!

Redaksi ISOI